Makna Idul Qurban

Leave a Comment

Jika kita berbicara tentang Idul Qurban, maka kita ingat sejaran Nabi Ibrahim AS yang menerima mimpi berupa perintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya (Nabi Ismail AS). Awalnya Nabi Ibrahim ragu atas perintah tersebut, namun setelah bermimpi sebanyak tiga kali maka beliau menceritakan mimpinya tersebut kepada anaknya.

Bayangkan! Jika kamu berada di posisi Nabi Ismail saat itu, apa yang akan kamu lakukan? Tentu kamu akan menolak untuk disembelih atau bahkan bisa jadi kamu malah akan langsung lari terbirit-birit kabur dari rumah. Namun Nabi Ismail tidak demikian, dia dengan berkata “Wahai ayah! Jika memang itu adalah perintah Allah, maka laksanakanlah!”. Masyallah, kematian bukanlah hal yang ditakuti oleh Nabi Ismail, ketaatan dan imannya sungguh tinggi tingkatannya.

Hari yang dinanti tiba. Nabi Ibrahim membawa Nabi Ismail ke suatu tempat (maaf saya lupa nama tempatnya) untuk menyembelihnya. Akhirnya Nabi Ibrahim myenyembelih anaknya sendiri. Namun, alangkah kagetnya beliau ketika ternyata yang dia sembelih bukanlah anaknya, melainkan seekor kambing besar. Sementara itu, Nabi Ismail terlihat sehat seperti sediakala. Ternyata, sebelum pisau itu memotong leher Nabi Ismail Allah menggantinya dengan seekor domba besar. Allah maha besar.

Begitulah kira-kira ringkasan cerita Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang sekarang diperingati sebagai hari raya qurban atau idul qurban.

Hal yang patut kita pertanyakan adalah ‘masih banyakkah orang di era sekarang yang masih memiliki kepatuhan kepada Allah seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail?’. Ah jangan jauh-jauh, lihat saja jalan raya ketika waktu shalat jum’at! Ramaikah? Jika iya, itu suatu pertanda bahwa kita lebih memilih kehidupan dunia yang sesaat dari pada kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Coba perhatikan orang-orang disekitar kita, masih banyakkah diantara mereka yang minum sambil berdiri? Banyak! Padahal saya yakin kebanyakan dari mereka tahu bahwa Rasulullah mengajarkan umatnya untuk minum sambil duduk. Itulah kita, umat muslim yang menderita penyakit cinta dunia.

Tidak hanya melanggar perintah dalam agama, peraturan-peraturan kecil yang sudah jelas pun seringkali kita langgar hanya karena orang lain juga melakukan hal yang sama. Menerobos lampu merah misalnya, karena ada orang lain yang menerobos maka kita jadi ikutan berani menerobos, padahal kita sudah tahu bahwa itu salah, iya SALAH!

Lain halnya ketika kita ingin berbuat baik. Ketika awal masa kerja kita berniat untuk bekerja sebaik mungkin sepenuh kemampuan kita, namun karena melihat teman kerja lain yang kerja asal-asalan kita pun ikut kerja asal-asalan. Atau ketika kita berjalan di jalan dan melihat paku atau benda tajam, kita hanya mendiamkan karena banyak orang lain juga yang berjalan disitu dan melihatnya. Itulah kita, makhluk individualis.

Sebagai kaum muslim yang meyakini kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kita seharusnya tidak berprilaku demikian, kita seharusnya mencontoh ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT dan menjadi pelopor dalam berbuat kebaikan. Kita percaya bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan pasti akan berbuah kebaikan juga, baik itu bagi kita sendiri atau orang lain, baik itu sekarang  maupun nanti (di dunia atau di akhirat).

Mari berani berbuat baik, berani menjadi pelopor kebaikan.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar

Tanri Alim. Diberdayakan oleh Blogger.