My Student is in Friendzone

Leave a Comment


friendzone
Ilustrasi friendzone
Ternyata menjadi guru memang bukan hal yang gampang, banyak sekali yang harus dipelajari dan banyak sekali keputusan-keputusan yang harus diambil dalam menghadapi berbagai masalah.

Kali ini tentang seorang murid perempuan saya, sebut saja namanya Mawar. Beberapa hari yang lalu Mawar mem-follow IG (Instagram) saya, kemudian saya followback dan tidak lama setelah itu saya melihat sebuah posting fotonya tentang friendzone. Oh my god, how come she know about friendzone when she only a 12 years old girl?

Yap, padahal saya sendiri rasanya baru tahu istilah friendzone ketika umur saya sudah mencapai dua puluh tahun lebih. Bahkan, teman mengajar saya pak Hasan tidak tahu sama sekali tentang frendzone. Hmmm.. Child’s world has grown too fast.

Tadinya, saya kira Mawar hanya iseng memposting kata-kata dalam bahasa Inggris atau hanya sekedar supaya terlihat keren oleh teman-temannya. Tapi setelah saya tanya “Mawar, do you really know what ‘friendzone’ is?”, dia jawab “yes” dengan yakin dan sambil tersenyum. Kemudian saya menyuruhnya menjelaskan tentang apa itu frendzone dan ternyata tidak hanya dia yang bisa menjelaskan, tapi temannya juga bisa menjelaskan. Pertanyaan saya kemudian adalah “Are you in friendzone?”, lagi-lagi dia menjawab sambil tersenyum “yes”. Ow!.. this is imposible! What should i do?

Saking bingungnya menghadapi situasi ini, saya bahkan sempat update status BBM ‘my student said she is in friendzone, and you know what? She is only 12 years old’. So, not long after that my friend send me a message “as a good teacher, you have to advice her! lol”.

Setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya saya siapkan materi advice untuk murid saya yang sedang berada di wilayah friendzone. Ketika jam pelajaran berakhir saya memanggilnya berdua bersama temannya. Saya mulai sesi advice dengan menceritakan masa lalu saya yang cukup kelam, saya cerita bahwa saya juga dulu pernah punya pacar. “Masa sih pak? Saya gak percaya pak Abeng pernah pacaran”, kata temannya Mawar. Entah ini ledekan atau pujian, tapi sepertinya saya sedikit tersinggung dan saya acuhkan pertanyaan formalitas tersebut.

Saya lanjut bercerita, saya ceritakan bahwa saya hanya pacaran sebentar, sekitar empat bulan. Mawar langsung reflek bertanya “Are you broken heart?”, sambil tersenyum malu saya pun menjawab iya. Kemudian saya menambahkan beberapa efek negatif dari pacaran seperti nilai kuliah yang turun drastis. Setelah itu saya juga cerita kalau saya juga pernah masuk kedalam zona frenzone dan efeknya tidak jauh beda dari pacaran.

Nah dari sini saya mulai advice ke Mawar untuk keluar dari zona frendzone atau bahkan pacaran. Tapi hasilnya cukup mengecwakan, Mawar hanya menjawab “insyallah”.

Well, mungkin itu terjadi karena ketika advice banyak sekali kekurangannya, banyak hal yang ingin saya sampaikan tapi terlewat, seperti pembahasan pacaran dan friendzone secara hukum islam dan bagaimana perasaan si cowok ketika berada di friendzone. Duh jadi nostalgia nih :’)

Ada yang punya ide atau masukan untuk menghadapi Mawar? Tulis di kolom komentar yah! See you.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar

Tanri Alim. Diberdayakan oleh Blogger.