HUKUMAN DARI PAK ABENG

HUKUMAN DARI PAK ABENG

Terik matahari memasuki celah-celah kamar. Angin bertiup kencang. Suara kipas angin berdecit keras. Mungkin mereka sedang marah karena aku tidak beranjak pergi ke kelas untuk megikuti pelajaran. Aku justru termenung memikirkan alasan tidak masuk kelas kali ini, apa alasan yang harus kuberikan pada pak Abeng kali ini? Pusing? Sepertinya alasan itu sudah sering aku gunakan, pasti pak Abeng tidak akan percaya. Terkunci di dalam kamar? Tapi alasan ini sudah sering kupakai, pasti pak Abeng tidak akan percaya. Bagaimana dengan jujur? Sepertinya itu ide yang bagus, aku mulai bosan harus berbohong terus. Toh, pak Abeng tidak akan marah, jadi apa salahnya aku jujur?

Tapi aku masih penasaran apa alasan teman-temanku kali ini? Kenapa mereka terlihat biasa-biasa saja, apa mereka sudah punya alasan yang akan membuat pak Abeng percaya? Aku pun bertanya kepada mereka. “Lala kamu gak masuk alasannya apa?”, “Pusing, tapi pusing beneran sama sakit perut”, “Ooh”. Aku beranjak menuju Reta dan Silva yang sedang asik menonton film di laptop, “Silva, kamu enggak masuk alasannya apa?”. “Pusing tau sayanya, jantung saya kaya sakit gitu”, “Ooh, kalau kamu ret?”, “Males tau sama pak Zaki, ngeselin!”, “Emang ngeselin kenapa?”, “ya, ngeselin aja!”. “Ih Nisa, saya juga kesel tau sama pak Hasan, orangnya pilih kasih. Apa kali pak Hasan tuh, giliran ikwan aja dibaik-baikin, eh akhwatnya dicuekin.. ewh..” ucap Silva, yang memang dari dulu sepertinya tidak suka dengan pak Hasan. Tiba-tiba pintu akhwat diketuk “yang didalam buka pintunya sih ”, “Iya sebentar”, ucap Reta mengambil gunting untuk membuka pintu. Pintu akhwat kelas 7 memang rusak, gagang pintunya copot, jadi jika pintunya tertutup harus dibuka dengan besi atau gunting.

Hani dan Nazwa masuk, tapi mereka langsung keluar kamar tanpa mengucapkan satu ktapun. Mereka hanya menaruh tas dan pergi. “Si Nam-nam mana, kok belum ke asrama sih?”. Ucapku sambil memegang buku diary. “Si Nam-nam ke bu Tika dulu kali”, jawab Silva. Tiba-tiba Hani datang “Yang mesen es buble! Ini ice buble-nya udah dateng”. “Makasih Hani", ucapku dan Lala. Tiba-tiba Nam-nam datang dengan bibir yang ditekuk, sepertinya dia sedang ada masalah. Sampai selesai istirahat Nam-nam hanya di kasurnya, entah sedang apa, sedangkan aku dan Lala asik minum ice buble buatan mamah Hani sambil mengobrol. Reta dan Silva sedang asik menonton film, Hani dan Nazwa mungkin sedang belajar karena mereka membawa buku. Akhirnya jam istirahat selesai. Hani dan Nazwa segera pergi ke kelas dan disusul dengan Nam-nam. Aku, Reta, Silva dan Lala tetap di Asrama, kami memang tidak mau masuk kelas. Sebenarnya kami semua malas masuk kelas, entah kenapa setiap hari kamis kami selalu malas masuk kelas, mungkin karena hari kamis mata pelajaranya banyak dan semua mata pelajarannya susah.

Jam menunjukkan pukul 11.30, pelajaran sudah selesai, Hani Nazwa dan Nam-nam juga sudah kembali ke Asrama. Kami siap-siap sholat lalu bergegas ke Masjid, setelah shalat semua (akhwat kelas 7) ditunggu di kantor oleh pak Ammar untuk mengambil seragam, tapi kami memutuskan ke kantor setelah makan. Ternyata Aku, Silva, Lala, Reta dan Nazwa ditunggu pak Abeng di kantor. Aku takut kalau pak Abeng memanggil kami karena kami tidak masuk kelas, tapi kenapa Nawa juga dipanggil? Bukannya Nazwa tadi masuk kelas? Aku mencoba berpikir positif. Setelah akhwat kelas 7 selesai mengambil seragam aku dan yang lainnya segera pergi menuju pak Abeng. Kami disuruh masuk ke sebuah ruangan. Entahlah, aku tidak tahu nama ruangan itu. Tapi ruangan itu cukup untuk membuatku ketakutan.

Pak Abeng datang. “Assalamualaikum”, pak Abeng mulai berbicara pada kami, dimulai dari Nazwa. “Nazwa kemarin hari kemais kenapa gak masuk kelas?”. “Ih, pak Abeng sayanya males sama ibu saya, masa saya dijemput jam 9 malem lebih”. “Kalau kamu Silva?”, “Saya sakit pusing sama males pak”. "Kamu Reta, kenapa kamu enggak masuk?”, “Pak saya di-bully mulu, sayanya enggak ditemenin”. “Kalau Lala kenapa?”, “Pusing pak Abeng”. “Kamu Nisa kenapa?”, “Saya mah ikut-ikutan aja pak”. Setelah hampir 15 menit kami semua mengobrol, akhirnya kami sepakat untuk tidak akan tidak masuk kelas lagi. Tapi walau bagaimanapun kami sudah melakukan kesalahan, jadi kami harus menerima konsekuensi atas apa yang telah kami lakukan. Pak Abeng memberi konsekuensi atau hukuman pada kami semua. Hukuman kami berbeda-beda, Nazwa diberi hukuman menggambar sebanyak 5 lembar, Sylva diberi hukuman soal Matematika tapi tingkat SD, Reta diberi hukuman mengerjakan soal di bab tertentu, Lala diberi hukuman untuk menggambar sebanyak 5 lembar seperti Nazwa, sedangkan aku diberi hukuman untuk membuat cerita sebanyak 5 lembar.

Jam sudah menunjukkan pukul 13.30 itu artinya kami harus segera masuk kelas untuk mengikuti pelajaran Tahsin, kami tidak mau dihukum karena tidak masuk kelas/terlambar. Kali ini kami belajar Tahsin di lapangan, tepatnya di bawah pohon. Jujur pelajaran bahasa Arab dan Tahsin adalah pelajaran yang tidak aku suka, menurutku pelajaran Tahsin dan bahasa Arab membosankan.

Adzan ashar berkumandang. Kami bersiap-siap menuju masjid untuk sholat. Setelah sholat aku langsung pulang bersama kak Asti. Aku tidak pernah ikut pramuka dan spesial learnning Teakwondo. Bukan karena malas atau apa, tapi aku tidak suka pramuka dan Teakwondo. Sedangkan special learning enggak ada yang aku suka.

Sesampainya di rumah

“Assalamualaikum”. “Waalaikumsalam, ucap ibu sambil membuka pintu. Setelah aku salim aku langsung pergi ke kamarku, aku mengganti baju lalu pergi ke teras kamar sambil membawa buku tulis dan pulpen. Niatku ingin mengerjakan tugas dari pak Abeng, yaitu membuat cerita sebanyak 5 lembar, aku memutuskan untuk mengerjakannya sore ini karena jika malam hari aku yakin ceritanya tidak akan selesai. Bayangkan saja 5 lembar kertas yang akan ditulis cerita dan cerita itu harus selesai dalam waktu 2 jam. Menurutku itu tidak mungkin, apalagi aku ini bukan seorang penulis.

Sudah hampir 15 menit aku di teras kamar, tapi belum ada ide yang masuk kedalam otakku. Satu kata pun belum tertulis di bukuku. Huft.. Aku kan hanya dapat ide jika moodku dalam kondisi baik. Mungkin moodku sekarang tidak mendukung untuk membuat certa. Tapi, sampai kapan aku akan terus diam disini? Sampai moodku membaik? Bagaimana jika sampai pagi aku belum mendapat ide? Pasti pak Abeng akan marah. Akupun memutuskan untuk menulis cerita ini nanti malam. Aku berharap semoga nanti malam aku bisa menyelesaikannya.

Malam harinya

“Mba Nisa sama dek Izam ayo makan!”, ucap ibuku yang sudah berada di meja makan bersama ayah. Di keluargaku setiap malam adalah waktu berkumpul keluarga, biasanya setelah makan malam kami berkumpul di ruang TV. Kami biasanya melakukan aktifitas masing-masing, ayah mengerjakan tugas dari kantor, ibu duduk-duduk sambil membantu aku dan adikku mengerjakan PR, sedangkan aku dan adikku belajar. Biasanya kami melakukan aktifitas itu hingga jam 20.30, setelah itu kami bebas melakukan apa saja. Kami juga suka bertukar cerita atau pengalaman hari ini, menonton TV dan terkadang ayah membuat tebak-tebakkan yang membuat kami semua tertawa.

Setelah makan, aku mengerjakan tugas yang diberikan pak Abeng, tapi aku masih bingung, mau nulis apa? Akhirny akau membuat cerita tentang pengalamanku di Darqo (Pesantren Modern Daar El Qolam). Tapi setelah hampir satu lembar, aku merasa kalau ceritaku aneh, akupun berinisiatif untuk mengulang ceritaku dari awal. Tapi cerita apa yang akan ku buat?

“Mba, lagi ngerjain apa?”, “tugas dari pak Abeng bu”, “emang mba dikasih tugas gara-gara apa?”, “tadi aku enggak masuk kelas bu”, “kenapa? Kok mba gak masuk kelas?”, “Akunya males masuk kelas”, “loh.. enggak boleh gitu mba, bma harus masuk kelas, nanti ketinggalan pelajaran loh”, “iya bu”, “coba, ibu liat tugas dari pak Abeng”, ucap ibuku sambil mengambil buku tulis yang ada di depanku. “Ini kok enggak ada tugasnya?”, “ibu, tugasnya itu disuruh nulis cerita”, “terus ceritanya mana?”, “belum aku bikin, akunya bingung mau nulis apa”, “tentang apa?”, “sekolah”, “mba tulis aja kejadian tadi di sekolah”, “oh iya ya, makasih ibu”.

Jam menunjukkan pukul 21.30, aku segera naik ke atas untuk tidur. Tapi di kamar aku belum bisa tidur, tiba-tiba hp-ku bergetar tanda ada messengger masuk, aku segera membuka hp, ternyata chat cari Nazwa yang menanykaan tentang tugas menulis ceritaku. Aku pun ingat kalau ceritanya belum selesai, akhirnya aku turun ke bawah untuk mengambil buku, aku berniat untuk mengelesaikannya hari ini, maksudku malam ini. Aku melanjutkan ceritanya, walaupun dengan mata yang ngantuk.

Tik – tok – tik  - tok , suara jarum jam yang tidak terlalu jelas suaranya, aku masih berusaha menulis cerita walau dengan mata dan tubuh yang mengantuk, mereka memang tidak bisa diajak kompromi. Aku melihat jam sudah menujukkan jarum ke angka 11 lebih 30 menit, teryata sudah malam sekali padahal aku baru mengerjakan tiga halaman. Huft... tiba-tiba tubuhku tidak bisa lagi diajak kompromi, akupun tidur dengan buku yang ada di depan mukaku.

TAMAT

***

Demikian sebuah cerita yang ditulis oleh Nisa, siswa kelas 7 SMP Peradaban Serang. Ceritanya bagus, semoga Nisa kelak bisa menjadi penulis yang karyanya bisa bermafaat bagi orang banyak, amin. Untuk Nisa, ditunggu yah karya selanjutnya.

HUKUMAN DARI PAK ABENG