The Super Acep

Leave a Comment
Assalamu’alaikum Wr Wb

Segala puji Allah. Solawat beserta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

“Kang berarti antum setiap hari ngajar berangkat pagi pulang malem?”

“Senin doang sih yang enggak, makannya ente masih mending Cuma sampe magrib doang”

Seperti itulah pembicaraan antara saya dan kang Acep, guru senior di tempat bimbel. Selama ini saya melihatnya sebelah mata, kenapa? Karena dulu ketika menjadi mahasiswa dia sangat aktif di organisasi dan termasuk orang yang disegani. Saya sedikit kecewa karena dia kini hanya mengajar dan dia juga belum nikah.

Tapi ternyata saya salah.

Tadi pagi saya sempat mengobrol dengan teman kosan saya yang juga mengajar di bimbel tersebut. Dari obrolan tersebutlah saya mendapatkan informasi bahwa kang Acep sudah lama menjadi anak yatim. Sekarang ibunya tidak bekerja dan dia lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Hebat bukan? Ternyata hanya dengan mengajar bisa menghidupi keluarganya. Ternyata memang yang memberi makan keluarga bukanlah kita, tapi Allah SWT.

Belum habis kekaguman saya. Tiba-tiba saya tercengang saat mendengar bahwa kang Acep telah mendaftarkan haji ibunya. Guru bisa mendaftarkan haji orang tuanya? Ini luar biasa. Orang tua saya saja baru bisa daftar haji (belum berangkat) setelah menjadi guru selama dua puluh tahun. Sementara kang Acep, baru menjadi guru selama 3 tahun sudah bisa mendaftarkan ibunya untuk haji. LUAR BIASA.

Sebagai sorang guru, tentu saya tahu berapa kisaran gaji yang beliau dapatkan setiap bulannya. Jika mendaftar haji butuh dana sekitar 25 juta, maka setiap bulan beliau menyisihkan uang sekitar satu juta. Ini adalah suatu cambukan untuk saya yang sudah bekerja selama tiga bulan,  namun belum bisa menyisakan atau menabungkan sepeserpun. Sepertinya besok saya harus wawancara beliau tentang cara menagemen uang yang baik.

Kang Acep bukanlah seorang PNS. Dia hanyalah seorang guru honorer di sebuah SMK dan guru bimbel di tempat yang sama dengan saya. Sungguh tidak disangka, orang yang selama ini saya remehkan ternyata adalah seorang manusia super yang mampu mewujudkan mimpi saya. Yaitu menghajikan kedua orang tua.

Ya, salah satu dari mimpi saya adalah menghajikan orang tua dan saya masih belum bisa mewujudkan itu semua. Walaupun memang orang tua saya sudah mendaftar haji, tapi mereka mendaftar menggunakan biaya sendiri.

Cerita lainnya pun membuat saya terpana. Ketika guru-guru bimbel makan enak, pasti kang Acep akan membeli makanan yang sama, dibungkus untuk ibunya. Bagaimana dengan saya? Ketika saya makan enak rasanya saya tidak pernah mengingat kedua orang tua atau adik-adik saya di rumah. Astagfirullah. Padalah terkadang saya tidak hanya makan enak, tapi juga makan banyak.

Don’t judge a book by it’s cover

Well, kalimat diatas memang benar. Terima kasih untuk kang Acep yang telah menjadi sumber inspirasi. Semoga kelak saya bisa mengajak umroh orang tua saya sebagai pengganti mimpi menghajikan mereka berdua. Amiin.

Sekian, semoga bisa menginspirasi anda juga.

Assalamu’alaikum Wr Wb
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar

Tanri Alim. Diberdayakan oleh Blogger.